Ketika anak mengalami masalah di sekolah, jangan terburu-buru mencari homeschooling sebagai jawaban. Cari tahu dulu apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Ada satu kalimat yang cukup sering saya dengar dari orang tua:
“Bu, anak saya sudah tidak nyaman di sekolah. Apakah sebaiknya homeschooling?”
Saya memahami kegelisahan itu.
Sebagai ibu, tentu kita ingin anak berada di lingkungan yang aman, sehat, dan mendukung pertumbuhannya. Namun saya ingin mengajak orang tua untuk berhenti sejenak sebelum mengambil keputusan.
Anak tidak nyaman di sekolah tidak otomatis berarti homeschooling adalah jawabannya.
Yang perlu kita lakukan terlebih dahulu adalah memahami sumber masalahnya.
Apa yang sebenarnya membuat anak tidak nyaman?
Anak yang mengatakan, “Aku tidak mau sekolah,” belum tentu sedang mengatakan hal yang sederhana.
Bisa saja ada persoalan dengan teman.
Bisa saja ada tekanan akademik.
Bisa saja anak mengalami kesulitan beradaptasi.
Bisa saja ada pengalaman sosial yang tidak menyenangkan.
Atau mungkin anak memang sedang membutuhkan pendekatan belajar yang berbeda.
Karena itu, orang tua perlu menggali lebih dalam.
Apa yang terjadi?
Sejak kapan?
Apa yang anak rasakan?
Apa yang sudah dilakukan?
Dan yang paling penting:
Apa yang sebenarnya anak butuhkan?
Jangan sampai kita hanya mengubah tempat belajar, tetapi tidak memahami akar persoalannya.
Pengalaman keluarga saya menjadi titik refleksi
Keputusan keluarga kami menjalani homeschooling juga tidak lahir dari sebuah tren.
Ada pengalaman pendidikan yang membuat kami sebagai orang tua melakukan banyak refleksi.
Saya melihat pengalaman anak-anak saya, termasuk persoalan yang mereka hadapi dalam lingkungan pendidikan, kemudian mulai mempertanyakan kembali:
Apakah setiap anak harus selalu menyesuaikan diri dengan sistem yang sama?
Atau pendidikan juga perlu memiliki ruang untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan anak?
Pertanyaan tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang keluarga kami dalam memilih homeschooling. Namun pengalaman tersebut juga mengajarkan saya bahwa tidak semua persoalan pendidikan memiliki satu solusi.
Homeschooling bukan “jalan keluar” dari semua masalah
Saya ingin menegaskan hal ini karena penting.
Jika anak mengalami bullying, misalnya, yang pertama harus dilakukan adalah memastikan keselamatan dan kebutuhan anak, kemudian menangani persoalan tersebut secara tepat.
Homeschooling mungkin menjadi salah satu pilihan pendidikan yang dipertimbangkan keluarga dalam kondisi tertentu.
Tetapi jangan menjadikan homeschooling sebagai satu-satunya cara menyelesaikan persoalan. Sebab ketika anak berpindah ke homeschooling, tantangan pendidikan tetap ada.
Anak tetap perlu belajar.
Tetap perlu bersosialisasi.
Tetap membutuhkan pendampingan.
Tetap membutuhkan struktur.
Dan tetap membutuhkan lingkungan yang sehat.
Lalu kapan homeschooling layak dipertimbangkan?
Menurut saya, homeschooling layak dibicarakan ketika keluarga sudah melihat kebutuhan anak secara lebih menyeluruh.
Misalnya:
Anak membutuhkan fleksibilitas belajar yang lebih besar.
Keluarga memiliki nilai pendidikan tertentu yang ingin dibangun secara lebih intensif.
Anak memiliki kebutuhan atau kondisi tertentu yang membutuhkan pengaturan pembelajaran yang lebih personal. Atau keluarga memang memiliki kesiapan untuk mengambil tanggung jawab lebih besar terhadap proses pendidikan anak.
Namun sekali lagi, kuncinya adalah:
kebutuhan anak + kesiapan keluarga.
Bukan sekadar masalah sesaat.
Orang tua perlu siap, bukan hanya anak
Ini bagian yang sering terlupakan.
Ketika anak pindah ke homeschooling, yang berubah bukan hanya kegiatan anak.
Orang tua juga harus beradaptasi.
Orang tua perlu belajar menyusun rencana.
Perlu memahami kebutuhan anak.
Perlu membangun jejaring sosial.
Perlu memikirkan evaluasi.
Dan perlu menjaga agar hubungan orang tua dan anak tidak berubah menjadi hubungan “guru dan murid” selama 24 jam.
Dalam penelitian saya mengenai keluarga dengan orang tua bekerja, kami menemukan bahwa homeschooling membutuhkan koordinasi yang adaptif: keluarga memetakan kondisi dan kebutuhan, menyusun rencana yang fleksibel, melaksanakan pembelajaran dengan berbagai sumber, lalu melakukan refleksi dan penyesuaian. Artinya, keputusan homeschooling membutuhkan kesiapan sistem keluarga.
Jangan mengambil keputusan hanya karena sedang lelah
Saya memahami bahwa ketika anak mengalami masalah di sekolah, orang tua juga bisa merasa lelah. Namun keputusan pendidikan sebaiknya tidak diambil hanya karena kita sedang berada dalam titik paling emosional.
Ambil waktu.
Dengarkan anak.
Diskusikan dengan pasangan.
Cari perspektif dari orang yang memahami pendidikan.
Kemudian lihat kondisi keluarga secara realistis.
Tanyakan:
“Apakah homeschooling benar-benar sesuai dengan kebutuhan anak saya?”
Dan juga:
“Apakah saya siap menjalankannya?”
Kedua pertanyaan itu sama pentingnya.
Pendidikan bukan hanya tentang tempat
Setelah menjalani homeschooling selama bertahun-tahun, saya semakin memahami bahwa persoalan pendidikan tidak hanya berada pada di mana anak belajar.
Tetapi juga:
bagaimana anak belajar, untuk apa ia belajar, siapa yang mendampinginya, dan manusia seperti apa yang sedang kita bantu tumbuhkan.
Sekolah formal bisa menjadi pilihan yang baik bagi sebagian keluarga.
Homeschooling juga bisa menjadi pilihan bagi keluarga tertentu.
Tidak perlu menjadikan keduanya sebagai pertandingan.
Yang perlu kita lakukan sebagai orang tua adalah mengenali kebutuhan anak dengan jujur.
Karena ketika kita berbicara tentang pendidikan, yang sedang kita pertaruhkan bukan sekadar nilai.
Kita sedang mendampingi perjalanan hidup seorang anak.
