14 Tahun Menjalani Homeschooling: Apa yang Saya Pelajari sebagai Ibu, Akademisi, dan Praktisi Pendidikan?

Homeschooling mengajarkan saya bahwa pendidikan anak tidak bisa dipisahkan dari kehidupan keluarga.

Kalau seseorang bertanya kepada saya, “Sejak kapan Ibu serius mendalami homeschooling?”, saya bisa menjawabnya dengan satu angka: 2012.

Tetapi perjalanan itu sebenarnya tidak sesederhana sebuah angka.

Sejak 2012, saya menjalani praktik homeschooling bersama empat anak saya. Pada saat yang sama, perjalanan profesional saya juga terus berjalan sebagai akademisi, praktisi pendidikan, konsultan pendidikan dan keluarga, hingga kemudian menjadi pendiri dan ketua Yayasan Generasi Juara.

Selama kurang lebih 14 tahun itu, saya tidak hanya mengamati homeschooling.

Saya menjalaninya.

Saya berdiskusi tentangnya.

Saya menelitinya.

Dan saya terus belajar darinya.

Saya tidak memulai homeschooling karena ingin mencari sistem yang sempurna

Saya justru memulainya karena memiliki banyak pertanyaan tentang pendidikan.

Sebagai seorang ibu, saya melihat langsung bagaimana pengalaman pendidikan dapat memengaruhi anak.

Sebagai seorang akademisi, saya terbiasa mempertanyakan konsep dan praktik.

Dan sebagai praktisi pendidikan, saya berhadapan dengan beragam karakter keluarga dan kebutuhan peserta didik.

Ketiga perspektif tersebut akhirnya bertemu dalam perjalanan homeschooling saya.

Saya semakin memahami bahwa pendidikan anak tidak bisa hanya dilihat dari satu sisi.

Tidak cukup hanya berbicara tentang kurikulum.

Tidak cukup hanya berbicara tentang nilai.

Tidak cukup pula hanya berbicara tentang metode belajar.

Kita harus melihat anak sebagai manusia yang utuh.

Anak bukan proyek orang tua

Salah satu pelajaran terbesar yang saya dapatkan adalah bahwa anak bukan proyek yang harus kita bentuk sesuai dengan keinginan kita.

Setiap anak memiliki karakter.

Setiap anak memiliki minat.

Setiap anak memiliki kecepatan belajar.

Dan setiap anak memiliki perjalanan hidupnya sendiri.

Sebagai orang tua, kita tentu memiliki harapan.

Namun harapan itu tidak boleh membuat kita kehilangan kemampuan untuk melihat siapa sebenarnya anak kita.

Saya belajar untuk bertanya:

Apa yang sedang anak saya butuhkan?

Bukan hanya:

Apa yang ingin saya berikan kepadanya?

Perbedaan dua pertanyaan tersebut ternyata sangat besar.

Dari mengatur anak menjadi mendampingi anak

Dalam pendidikan konvensional, kita sering terbiasa dengan pola instruksi:

Belajar.

Kerjakan.

Kumpulkan.

Ujian.

Nilai.

Selesai.

Homeschooling membuat saya banyak merefleksikan kembali pola tersebut.

Apakah anak hanya perlu menjadi orang yang mampu mengikuti instruksi?

Atau kita juga perlu membantu mereka menjadi orang yang mampu mengambil tanggung jawab terhadap proses belajarnya?

Pertanyaan inilah yang kemudian membawa saya mendalami self-directed learning dalam ekosistem homeschooling. Kajian mengenai tema tersebut saya bawa dalam konferensi pendidikan SICONE 2026.

Bagi saya, kemandirian bukan berarti anak dibiarkan sendiri.

Justru anak membutuhkan pendampingan agar perlahan mampu mengambil tanggung jawab yang lebih besar.

Saya juga belajar bahwa homeschooling tidak identik dengan belajar sendirian

Ini salah satu miskonsepsi yang perlu diluruskan.

Homeschooling bukan berarti anak harus belajar sendiri.

Anak tetap membutuhkan guru, mentor, teman, komunitas, lingkungan, bahkan pengalaman langsung di masyarakat.

Yang berubah adalah bagaimana keluarga menyusun ekosistem belajar tersebut.

Dalam pengalaman saya, belajar dapat berlangsung di berbagai tempat dan melalui berbagai orang.

Karena itu, saya melihat pendidikan bukan hanya sebagai aktivitas yang terjadi di dalam ruang kelas.

Kehidupan itu sendiri adalah ruang belajar.

Dari praktik menuju penelitian

Menariknya, perjalanan homeschooling saya sebagai ibu kemudian bertemu dengan perjalanan saya sebagai akademisi.

Saya tidak ingin pengalaman pribadi berhenti menjadi cerita keluarga.

Saya ingin pengalaman tersebut terus dipertanyakan, dikaji, dan dipelajari.

Salah satu kajian yang saya lakukan bersama tim membahas model homeschooling pada keluarga dengan orang tua bekerja. Penelitian tersebut melihat bagaimana keluarga mengatur kondisi, kebutuhan belajar, perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi pembelajaran secara adaptif.

Bagi saya, inilah salah satu hal yang menarik dari dunia pendidikan:

praktik dapat melahirkan pertanyaan, dan pertanyaan dapat membawa kita kembali kepada penelitian.

Kemudian hasil penelitian kembali memberikan perspektif baru bagi praktik.

Siklus itu terus berjalan.

Empat anak, empat perjalanan

Saya memiliki empat anak yang menjalani homeschooling.

Namun saya tidak pernah ingin menjadikan mereka sebagai “produk homeschooling”.

Mereka adalah empat manusia dengan perjalanan masing-masing.

Justru dari mereka saya belajar bahwa keberhasilan pendidikan tidak bisa diukur hanya dari satu indikator.

Bukan hanya nilai.

Bukan hanya prestasi.

Bukan hanya masuk sekolah atau perguruan tinggi tertentu.

Saya lebih tertarik melihat apakah anak mampu mengenali dirinya, bertanggung jawab, belajar dari pengalaman, beradaptasi, bekerja sama, dan terus berkembang.

Karena hidup tidak berhenti ketika anak selesai sekolah.

Justru setelah itu, kehidupan yang sebenarnya terus berjalan.

Setelah 14 tahun, saya semakin yakin pada satu hal

Homeschooling bukan tujuan.

Homeschooling adalah salah satu jalan.

Dan jalan itu tidak harus ditempuh oleh semua keluarga.

Yang terpenting adalah orang tua memahami alasan memilihnya dan siap menjalani tanggung jawab di balik pilihan tersebut.

Saya tidak ingin mengatakan:

“Semua orang tua harus homeschooling.”

Saya justru ingin mengatakan:

“Kenali anak Anda. Kenali keluarga Anda. Kemudian pilih pendidikan dengan kesadaran.”

Karena pendidikan bukan tentang mengikuti pilihan orang lain.

Pendidikan adalah tentang keberanian orang tua mengambil tanggung jawab terhadap perjalanan tumbuh kembang anaknya.

Dan setelah 14 tahun menjalani homeschooling, saya masih terus belajar.

Bukan hanya tentang bagaimana mendidik anak.

Tetapi juga tentang bagaimana menjadi ibu yang terus bersedia belajar dari anak-anaknya.